Al-Qardh (Utang Piutang)


Definisi qardh
            Qardh dalam pengertian umum hampir sama dengan jual beli. Dalam prosesnya niscaya ada kesepakatan antara satu dengan yang lain. Sering kita jumpai dimasyarakat al-qardh (utang piutang) pada dikala keadaan yang sangat genting tidak memiliki uang sepeserpun padahal uang itu sangat dibutuhkan, maka jalan satu satunya ialah al-qurdh (utang piutang) . qardh dalam arti Bahasa berasal dari kata qaradha yang sinonimnya qatha’a artinya memotong . karna orang yang memperlihatkan utang , memotong sebagian hartanya untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan atau  muqtari’ah (orang yang menghutang).
Qardh dalam pengertian umum hampir sama dengan jual beli AL-QARDH (UTANG PIUTANG)
al qardh
Dalam definisi imam Hanafiyah dan syafi’iyah “qardh ialah harta yang diberikan kepada orang lain dari mal mitsli untuk dikemudian hari dibayar atau dikembalikandalam artian seseorang yang meminjam barang dan memakainya sebagai kebutuhan , maka haruslah dikemudian hari dikembalikan menyerupai yang ia pinjam sebelumnya. Sebenarnya tidak sulit menyimpulkan inti dari qardh diatas, yang merupakan janji antara kedua belah pihak membutuhkan dan diharapkan unruk dimanfaatkan barangnya dan dikembalikan persis menyerupai barang yang dimanfaatkan pertama kali.

sebagian para ulama’ menyampaikan bahwa qardh merupakan jual beli itu sendiri hanya saja menyebutkan tiga perbedaan antara qardh dan jual beli yang bersangkutan dengan kaidah syari’ah .

1 . Berlaku kaidah riba’ jikalau qardh itu harta atau berbentuk barang , termasuk ribawiyah menyerupai makilat (barang barang yang ditakar) jikalau kita kiaskan menyerupai proses jual beli maka suatu barang tersebut yang ditimbang atau dijatah .

2 . Berlaku kaidah murabanah yaitu jual beli barang terang dari jenisnya apabila qardh (utang piutang) itu didalam mal ghair mitsli misalnya menyerupai hewan .

3 . Berlaku kaidah menjual barang yang tidak ada ditangan seseorang (tidak dipegang), apabila qardh (utang piutang) yang tergolong dalam mal mitsli

DASAR HUKUM HIKMAH DAN  DISYARI;ATKANNYA QARD

Qardh suatu pekerjaan baik yang diperintahkan oleh allah dan rosul yang mana dalam alqur’an telah disebutkan dalam surah al-baqarah (2) ayat 245

 siapakah yang mau memberi santunan kepada allah, santunan yang baik (meminjamkan hartanya dijalan allah) maka allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak dan allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) kepada –nya lah kau dikembalikan”

Dari ayat tersebut kita sanggup memahami bahwa qardh sangatlah dianjurkan kepada umat insan semoga saling tolong menolong , lengkap melengkapi maka allah yang akan membalas perbuatan tersebut dengan akhir yang dilipat gandakan.

  Menurut imam bubuk hanifah dan Muhammad,  qardh  berlaku dan mengikat seseorang ,jika suatu barang atau berupa uang sudah diterima oleh orang tersebut .
Menutut imam malikiyah qardh ialah hukumnya sama dengan hibah , shodaqoh , dan ariyah, berlaku dikala sudah terjadinya akad  (ijab qabul) walaupun muqtaridh belum mendapatkan barang.

Menurut imam syafi’iyah dab hanabilah pendapat yang shahih kepunyaan dalam qardh berlaku apabila suatu barang sudah diterima dan lebih lanjudnya berdasarkan imam syafi’I muqtariah mengembalikan suatu barang yang sama jikalau barang tersebut tergolong mal mistli  
    
RUKUN DAN SYARAT QARDH

Rukun dan syarat qardh dipertimbangkan oleh fuqaha’ berdasarkan para jumhur rukun qardh ada 3 (tiga) yaitu
·         A’qid (muqridh dan muqtaridh)
·         Ma’qud (benda yang dipakai )
·         Shighal (ijab dan qabul)


PENGAMBILAN MANFAAT DALAM QARDH

Para ulama’ bersepakat setiap hutang yang sanggup mengambil manfaat (kelebihan) hukumnya haram apabila suatu syarat yang berlaku tidak disyaratkan pada dikala waktu akad, namun apabila sudah disepakati pada waktu janji hukumnya boleh . jadi pada pada dasarnya apabila sudah ada kesepakatan yang mengsuka relakan proses pengambilan manfaat maka diperbolehkan alasannya sudah ada janji diawal. berdasaarkan hadits dari bubuk huroiroh r.a ,ia berkata:

“ rasulullah berhutang seekor unta, lalu dia membayarnya dengan seekor unta yang lebih baik dari pada seekor unta yang dihutangnya dan dia bersabda : sebaik baiknya kau sekalian ialah orang yang paling baik dalam membayar hutang ”(H.R . Ahmad dan Tirmidzi ).

Belum ada Komentar untuk "Al-Qardh (Utang Piutang)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel